Minggu, 25 November 2012

Tanpamu? aku sudah lebih dari siap :)


Ada satu rahasia yang masih terpendam cukup rapat.
Biarlah hanya menjadi obrolan sarapan pagi para peri.
Bahwa ketika aku menghempaskan cinta atas nama logika,
Dan tepat saat aku mengucapkan selamat tinggal pada hatinya yang mengambang tak pasti,
Mengangkut segala tentangku, mengemasnya dan berlalu pergi,
Ada satu yang terselamatkan:
Sebutir harapan.

Pelan, kulanjutkan hidupku.
Kutapaki titian, jurang, hingga lautan.
Pelan, waktu bergulir.
Meski kadang terasa begitu cepat di beberapa masa.

Jika kupejamkan mataku yang lelah akan siang dan sore, lalu bayanganmu datang berkelebat,
Tak kupungkiri kukirim doa kecil untukmu.
Jika samar hujan datang menemani langkahku,
Tak munafik ku tersenyum mengingat betapa kau mencintai tetes-tetes deras itu.
Dan pernah terjadi satu detik di pergantian hari, ketika segumpal perih merajam tak lagi sanggup kutahan,
Tak kutolak, ku biarkan mataku sejenak tersedu akan rindu,
Sejenak saja.

Dulu,
Ada kamu, senyummu, dan ceritamu yang datang mengisi hari-hariku dengan tawa, tangis, bahkan kemarahan.
Ada cinta yang tak terucap, meski telah lama tersadar.
Ada asa yang tak terungkap, dan terlalu sulit untuk dijelaskan seberapa dalam terpatri di benak, di hati, di rencana-rencana gila masa depan.
Sebelum akhirnya semua terhenti begitu saja.
Tanpa alasan, tanpa ucapan perpisahan, tanpa sekedar tanda-tanda berakhirnya pertemuan.

Aku bukan penyair gila, yang akan menggambarkan betapa bumi seakan berhenti berotasi sepeninggalmu, atau betapa aku mencintaimu lebih dari setiap tarikan oksigen yang kuhirup.
Bukan, aku tidak menyayangimu seberlebihan itu.
Namun aku pun bukan seorang yang bisa dengan mudahnya berpura-pura, memasang tampang baik-baik saja meski semua orang tahu, aku tidak sesehat itu.

Aku hanya tertegun,
itu saja.
Mendapati betapa beberapa bulan yang berjalan di antara kita, ternyata begitu istimewa.
Menyadari bahwa tatapan dan senyummu yang sangat kusuka itu, mungkin takkan pernah kudapatkan lagi.
Menemukan kenyataan yang cukup menyakitkan, aku bahkan tak tahu apa yang kau rasakan sekarang.

Tapi sebutir harapan yang tergantung agak rapuh itu kini tersenyum samar.
Entah harus kuakui atau tidak, di tengah usahaku menghindar dari dunia nyata, menghapus tanpa sisa setiap kenangan darinya dan mengisi penuh-penuh relung pikiranku dengan kesibukan sehingga tiada kesempatan bagi auranya untuk mengetuk pintu bahkan menerobos masuk.
Ada satu hal yang kututup rapat dari semua orang.
Satu rahasia yang tidak terlalu luar biasa, tapi tetaplah rahasia.
Ternyata memang masih,
Ada satu potongan kecil hatiku yang masih mencintainya tanpa syarat, tanpa alasan, tanpa mengharap balasan.
Ada segaris lidahku yang mendadak kelu setiap namanya di sebut.
Ada satu titik gila di otakku yang mengatakan mungkin memang aku ditakdirkan harus tetap mencintainya.
Meski rasa itu terkubur, tertutupi, dan hanya muncul sesekali, sembunyi-sembunyi.

(Kata-kata tak selesai di atas adalah puisi yang kubuat tanggal 5 April 2010, dan semalam, aku tertegun, tertawa membacanya, lalu melanjutkan puisi itu) 

Namun kali ini harapan itu berkata padaku,
Bahwa begitu banyak yang mencintaiku di luar sana
Bahwa begitu bodoh jika aku masih saja mengalamatkan rinduku padanya
Bahwa begitu sia-sia aku menggantungkan harapan berhargaku untuknya

Setelah aku salah menilainya,
Setelah sayatan-sayatan itu melebar menjadi jurang perih yang membuatku bahkan mati rasa
Setelah kami gagal menenun kemungkinan menjadi kepastian, meninggalkan cabikan benang tak tuntas
Menyisakan dua orang yang tersesat dalam kebingungan dan kecanggungan,
Dengan sikap yang entah menunjukkan ketangguhan atau justruketidakdewasaan.

Mungkin dalam hati kita sama-sama tak acuh bercampur angkuh,
Sadarkah kita bahwa betapa menggelikannya itu mengingat apa yang telah kita lalui bersama?
Mungkin dalam benak kita sama-sama bingung sikap apa yang harus ditampilkan,
Mungkin.. Mungkin..
Sudahlah, aku juga sudah malas melanjutkan bait-bait tak berarah ini
Aku membuatnya juga bukan untuk kau baca
Aku hanya ingin diriku yang sedang menulis ini tersadar
Bahwa harapan untuk cinta yang bodoh, juga merupakan harapan yang bodoh
Bersyukurlah aku karena aku berteman begitu erat dengan waktu, dan seiring melangkahnya detik, rasa itu hampir tiada sekarang.
Dengar,
Aku baik-baik saja sebelum kehadiranmu di hidupku, maka kenapa aku harus tidak baik-baik saja sesudah kepergianmu?

Dan aku tidak akan menyesal, kau tau itu.
aku akan menemukan sebelah sayapku, dan begitu juga kau.
biar menjadi satu kenangan manis yang pernah kita beri kecupan selamat datang, dan elusan selamat tinggal.

Dan aku tidak akan menoleh, kau sangat mengerti hal itu.
Kita telah memilih jalan kita masing-masing.
Maka inilah cerita ketika tidak ada lagi kita, hanyalah aku dan kamu tanpa air mata.
Yang harus kita lakukan hanyalah menangguhkan hati, menyingkirkan setiap serpihan yang masih tersisa dari retakan-retakan itu, meski jangan memaksakan diri untuk melupakan semuanya karena kenangan dibuat bukan untuk menyakiti.

Tanpamu? Aku sudah lebih dari siap :)
* from Venus Aretha's Facebook

Senin, 27 Agustus 2012

Rekomen buku "5cm"

Haluu haluu, lama nih nggak ngepost blog. Hmm.. abis semedi buat nyari kuliah hehe. Dan Alhamdulillah impian yang saya tulis di kertas hvs polos dan saya tempel di lemari buku itu jadi kenyataan :)

Dipostingan ini saya cuma mau ngerekomen buku yang bisa bikin kita lebih memaknai hidup *opo ae iki bahasane* lebih bisa bersyukur apa yang udah Allah kasih ke kita, rasa nasionalisme, dan mimpi.

Mungkin kalian semua yang iseng baca postingan ini udah pada pernah baca buku yang judulnya 5cm. Itu buku udah jadul banget emang, tapi saya baru bisa membabat habis buku itu hari ini, padahal belinya dari tahun 2010 -___- 2 tahun itu baru kebaca 1 bab dan baru bisa diselesaikan tahun ini *kemana aja coba*. Hmm.. mungkin karena buku ini bakal difilmkan makannya saya jadi semangat banget buat nyelesaiin baca buku ini dan karena saya juga nggak ada kerjaan selama sebulan ini. Ternyata jadi pengangguran itu nggak enak juga yaa. Kerjanya gelimbungan di rumah -____-

Ya udah deh saya cuma mau ngeposting ini aja. Tinggal nunggu filmnya diputer, apa bakal sebagus novelnya?
Tambahan, junot, fedi nuril sama denny sumargo bakal jadi pemain di 5cm the movie kyaaa~ *oke stop*

"Sebaik-baik manusia, adalah manusia yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain." -5cm

"Manusia yang nggak percaya sama Tuhan, sama saja dengan manusia yang nggak punya mimpi. Cuma seonggok daging yang punya nama." -5cm

"Setiap kamu punya mimpi atau keinginan atau cita-cita, kamu taruh disini, didepan kening kamu.. jangan menempel. Biarkan..."
"Dia..."
"Menggantung..."
"Mengambang..."
"5 centimeter... di depan kening kamu..."
"Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu." -5cm

"Bangsa yang besar ini juga harus punya mimpi..." -5cm



Sabtu, 15 Oktober 2011

Terima kasih semangatnya :)

Heiii...
Saya hari ini cuma mau ngepost capturean yang membuat saya semangat menjalani UTS semester ini, dan Alhamdulillah berkat secuil kata-kata dari mereka, pola belajar saya bisa berubah. Jadi, saya mau bilang Makasih buat mereka yang sudah berhasil menyemangati saya :)




Makasih Iris, Makasih mbak Try :) ({}) :*

Sabtu, 06 Agustus 2011

Trip to PPLH part 2

Halloo... lama nggak ngepost. Maklum orang sibuk (--")
Sebenernya saya lagi maaleees banget nulis dan males juga buat ngelanjutin cerita "TRIP TO PPLH." Akhirnya saya memutuskan untuk menampilkan *halaah* beberapa foto waktu di PPLH.














Jumat, 17 Juni 2011

Trip to PPLH part 1

Yuhuuu!!!
Hari rabu kemarin, sekolah saya mengadakan study ekskursi ke Trawas, tepatnya ke PPLH *lupa deh panjangannya apa --"*
Di sana kita bener-bener dapet pengalaman yang nggak bisa dilupain *berasa lebay bahasanya* tapi jujur, kita disana seru-seruan dan bener-bener ngelupain pikiran-pikiran tentang sekolah lah, pasca ukk lah, si dia lah *nah sapa tuh? haha*, pokoknya di sana kita having fun sama temen-temen. Jadi gini nih ceritanya...

Pertama, kita rencana mau berangkat jam 8an tapi yaah perilaku orang Indonesia yang suka molor akhirnya kita berangkat sekitar jam setengah 9an. Kita berangkat naik bus AC, tapi awalnya kelas saya nggak dapet bus AC tapi si supir bilang "ini cuma sementara" dan waktu di daerah masjid akbar kita pindah bus yang ber AC. Kayaknya seneng banget bisa naik bus AC, ya soalnya kita beruntung banget nggak naik angkot ke trawas. Dan dimulailah perjalanan kita ke Trawas.
Selama perjalanan kita nyanyi-nyanyi dari Tv yang di nyalain di bus, dan lagunya itu yang bisa di bilang lagi nge-hit di Indonesia *apaan coba nge-hit segala* mulai dari SM*SM, Syahrini, Anang Ashanti, wali, dll *yang lain nggak terkenal*. Di awal perjalanan kita masih rame tapi lama kelamaan mulai sepi, mungkin udah pada capek.

Ini kelompok saya. Waktu pertama kali sampai PPLH ;)

Naaah.. sekarang ceritanya udah sampai PPLHnya. Di sana kita di sambut sama mas-mas gitu deh, nah salah satunya yang membimbing kelas IPS, namanya Bang Dyat *abang jare*. Sebelum masuk-masuk hutan, kita di kumpulin dulu di ruangan buat di kasih briefing dan perkenalan.

ini niih yang namanya bang dayat :))

Habis itu kita mulai keliling lokasi. Waktu keliling tanaman obat-obatan yang di tanam di sana, ada nama tanaman yang menarik perhatian saya, namanya daun encok. Muncullah sifat usil saya, saya tutup dua huruf depan kata encok dan tau sendirilah bacanya apa. saya bilang ke teman saya memy.
Saya (S): mem, deloken iki
Memy (M): wih, sek tak fotone
Daaaan ini dia hasilnya.

*Ini ulah tangan iseng saya*

Setelah keliling tempatnya, kita per kelompok di suruh buat kerajinan tangan dari bahan daur ulang. Kelompok saya buat pigora bentuknya segitiga, tapi karena waktunya kurang dan sudah waktunya makan siang, akhirnya jadinya apa adanya haha :D :D

Inilah hasil karya yang agak maksa :))

makan siang di restoran alas

Setelah makan siang dan sholat, dimulailah perjalanan kita buat ngeliat sumber mata air yang katanya bisa bikin awet muda dan airnya bisa diminum.
Tunggu post-an selanjutnya di Trip to PPLH part 2 :)

Jumat, 15 April 2011

Kamis, 03 Maret 2011

“AKU MARAH BENERAN!”

Halo.. halo.. lama ya nggak ngepost blog, lagi asik ngupdate tampilannya daripada ngiisi blognya *loh?* Sebenernya banyak yang pingin saya ceritain di sini, tapi kalau udah ada di depan leptop langsung deh blank semua kalimat yang ada di otak. Padahal minggu-minggu ini saya punya banyak cerita seru, mulai yang seneng-seneng sampai yang bikin ngamuk *sambil banting barang.* Tapi ya gitu, setiap sudah buka blog bingung deh mau nulis apa. Ini mumpung inget, lupa semua yang mau di ceritain *maumu apa seh dii!!*

Oke, oke, sekarang serius. Saya mau cerita tentang anak anjem saya yang sangat-sangat menyebalkan. Rasanya saya pingin ngusir tu anak dari anjem saya *kejem*. Tapi ya gimana, saya harus sabar satu anjem sama anak itu. Minggu lalu saya bener-bener capek dan nggak mood ngeladenin anak-anak anjem yang ramenya naudzubillahmindalik wes ta. Waktu itu emang anak SMP kedatengan murid-murid dari korea jadi anjemnya lama nungguin salah satu anak SMP RSBI. Alhasil saya dan salah satu adik kelas saya, stuck di anjem selama kurang lebih 10 menit harus meladeni ank-anak “liar” itu bermain kartu yang cara memainkannya saja sudah mbingungi.

Awalnya saya dan adik kelas saya, Dewi ngurusin hp dewe-dewe. Saya dengerin lagu dan Dewi smsan. Tapi anak-anak “liar” itu mengajak kita untuk bermain kartu nggak jelas.
Si kakak (SK): mbak, ayo ikut main kartu
Saya (S): kartu opo iku? Cara maininnya piye?
Si adek (SA): jadi gini-gini
S: (nggak ndengerin. Sok ngangguk-ngangguk. Padahal nggak ngerti)
SK: mbak dewi ayo main juga
Dewi(D): Heem? Sek sek (masih ngurusi hapenya)
SK: ayo ta mbak! (maksa banget)
D: ya wes ya wes
Dan permainan pun di mulai. Di awali dengan gambar kepala cewek. Sistem permainannya sama dengan permainan kartu biasa tapi yang bikin bingung gimana cara taunya itu menang. Nah kan, mainan apa coba itu? Akhirnya saya memutuskan berhenti di awal permainan.
S: mboh gak ngeti. Aku keluar.
Si Dewi yang masih konsen antara HP dan kartu juga mulai bingung gimana sistem permainannya. Akhirnya dia juga berhenti bermain. Tinggal 4 anak SD yang masih main. Lalu ada yang keluar lagi karena ketidak jelasan permainan.
Hari itu memang mood saya lagi nggak banget agak naik darah waktu mereka teriak-teriak nggak jelas. Berisiknya itu lho ya Allah bikin orang mau nabok satu-satu *kejem*. Saya yang berusaha menenangkan diri dengan mendengarkan lagu dari HP saya, lama-lama suntuk juga. Gimana coba, udah mood lagi nggak benget, di tambah anak-anak “liar” itu yang berisiknya naudzubillah. Wes, kesabaranku habis. Tapi, aku coba tetep sabar. Permainan itu terus berlanjut. Si adek bilang sm si kakak kalau nggak boleh ngintip tapi nyatanya si adek ngintipin kartu kakaknya. *dasar anak kecil*. Sampai-sampai si dewi yang jelas-jelas di sebelah saya gini “Katany g oleh ngintip, tp ngintipan.”

S: haha kon iku sebelahan ae smsan.
D: hehe (terus bisikin ke saya) iki lho mbak, jarene nggak oleh ngintip, dee dewe ngintip
S: (cuma bisa ketawa)
Akhirnya anak SMP itu dateng dan mobil berangkat. Baru beberapa meter keluar dari gerbang sekolah, anak-anak itu rame lagi. Saya cuma bisa napas maksa. Lalu ada anak SD yang bilang ke Si kakak.
Anak SD (AS): Aku lho bisa marah, ayo cobaen bikin aku marah.
S: Aku marah beneran!
Si anak SMP (AP): Lho sama siapa mbak? Aku ta?
S: (menggeleng, tapi muka udah suntuk-sesuntuk-suntuknya)
AS & SK: Aku ta mbak?
S: (menggeleng. Padahal iya benget buat si kakak)
SK: marah kenapa mbak?
D: (bisik) yo ndontok raimu iku
S: (agak ngakak)
Saya berulang kali menghembuskan napas maksa. Si dewi bilang
D: wes dengerin lagu ae mbak, salahe ngga bawa headset
S: (mengeluarkan headset)
D: Oalah bawa, yowes pake headset ae mbak.

Akhirnya saya mendengarkan lagu sambil tidur sampai merasa hati saya sudah cukup tenang. Bnagun-bangun sudah sampai di rumah anak SMP itu dan anak SD (adik-kakak). Lalu saya memutuskan untuk tetap melek sampai rumah.