Ada satu rahasia yang masih terpendam cukup rapat.
Biarlah hanya menjadi obrolan sarapan pagi para peri.
Bahwa ketika aku menghempaskan cinta atas nama logika,
Dan tepat saat aku mengucapkan selamat tinggal pada hatinya yang mengambang tak pasti,
Mengangkut segala tentangku, mengemasnya dan berlalu pergi,
Ada satu yang terselamatkan:
Sebutir harapan.
Pelan, kulanjutkan hidupku.
Kutapaki titian, jurang, hingga lautan.
Pelan, waktu bergulir.
Meski kadang terasa begitu cepat di beberapa masa.
Jika kupejamkan mataku yang lelah akan siang dan sore, lalu bayanganmu datang berkelebat,
Tak kupungkiri kukirim doa kecil untukmu.
Jika samar hujan datang menemani langkahku,
Tak munafik ku tersenyum mengingat betapa kau mencintai tetes-tetes deras itu.
Dan pernah terjadi satu detik di pergantian hari, ketika segumpal perih merajam tak lagi sanggup kutahan,
Tak kutolak, ku biarkan mataku sejenak tersedu akan rindu,
Sejenak saja.
Dulu,
Ada kamu, senyummu, dan ceritamu yang datang mengisi hari-hariku dengan tawa, tangis, bahkan kemarahan.
Ada cinta yang tak terucap, meski telah lama tersadar.
Ada asa yang tak terungkap, dan terlalu sulit untuk dijelaskan seberapa dalam terpatri di benak, di hati, di rencana-rencana gila masa depan.
Sebelum akhirnya semua terhenti begitu saja.
Tanpa alasan, tanpa ucapan perpisahan, tanpa sekedar tanda-tanda berakhirnya pertemuan.
Aku bukan penyair gila, yang akan menggambarkan betapa bumi seakan berhenti berotasi sepeninggalmu, atau betapa aku mencintaimu lebih dari setiap tarikan oksigen yang kuhirup.
Bukan, aku tidak menyayangimu seberlebihan itu.
Namun aku pun bukan seorang yang bisa dengan mudahnya berpura-pura, memasang tampang baik-baik saja meski semua orang tahu, aku tidak sesehat itu.
Aku hanya tertegun,
itu saja.
Mendapati betapa beberapa bulan yang berjalan di antara kita, ternyata begitu istimewa.
Menyadari bahwa tatapan dan senyummu yang sangat kusuka itu, mungkin takkan pernah kudapatkan lagi.
Menemukan kenyataan yang cukup menyakitkan, aku bahkan tak tahu apa yang kau rasakan sekarang.
Tapi sebutir harapan yang tergantung agak rapuh itu kini tersenyum samar.
Entah harus kuakui atau tidak, di tengah usahaku menghindar dari dunia nyata, menghapus tanpa sisa setiap kenangan darinya dan mengisi penuh-penuh relung pikiranku dengan kesibukan sehingga tiada kesempatan bagi auranya untuk mengetuk pintu bahkan menerobos masuk.
Ada satu hal yang kututup rapat dari semua orang.
Satu rahasia yang tidak terlalu luar biasa, tapi tetaplah rahasia.
Ternyata memang masih,
Ada satu potongan kecil hatiku yang masih mencintainya tanpa syarat, tanpa alasan, tanpa mengharap balasan.
Ada segaris lidahku yang mendadak kelu setiap namanya di sebut.
Ada satu titik gila di otakku yang mengatakan mungkin memang aku ditakdirkan harus tetap mencintainya.
Meski rasa itu terkubur, tertutupi, dan hanya muncul sesekali, sembunyi-sembunyi.
(Kata-kata tak selesai di atas adalah puisi yang kubuat tanggal 5 April 2010, dan semalam, aku tertegun, tertawa membacanya, lalu melanjutkan puisi itu)
Namun kali ini harapan itu berkata padaku,
Bahwa begitu banyak yang mencintaiku di luar sana
Bahwa begitu bodoh jika aku masih saja mengalamatkan rinduku padanya
Bahwa begitu sia-sia aku menggantungkan harapan berhargaku untuknya
Setelah aku salah menilainya,
Setelah sayatan-sayatan itu melebar menjadi jurang perih yang membuatku bahkan mati rasa
Setelah kami gagal menenun kemungkinan menjadi kepastian, meninggalkan cabikan benang tak tuntas
Menyisakan dua orang yang tersesat dalam kebingungan dan kecanggungan,
Dengan sikap yang entah menunjukkan ketangguhan atau justruketidakdewasaan.
Mungkin dalam hati kita sama-sama tak acuh bercampur angkuh,
Sadarkah kita bahwa betapa menggelikannya itu mengingat apa yang telah kita lalui bersama?
Mungkin dalam benak kita sama-sama bingung sikap apa yang harus ditampilkan,
Mungkin.. Mungkin..
Sudahlah, aku juga sudah malas melanjutkan bait-bait tak berarah ini
Aku membuatnya juga bukan untuk kau baca
Aku hanya ingin diriku yang sedang menulis ini tersadar
Bahwa harapan untuk cinta yang bodoh, juga merupakan harapan yang bodoh
Bersyukurlah aku karena aku berteman begitu erat dengan waktu, dan seiring melangkahnya detik, rasa itu hampir tiada sekarang.
Dengar,
Aku baik-baik saja sebelum kehadiranmu di hidupku, maka kenapa aku harus tidak baik-baik saja sesudah kepergianmu?
Dan aku tidak akan menyesal, kau tau itu.
aku akan menemukan sebelah sayapku, dan begitu juga kau.
biar menjadi satu kenangan manis yang pernah kita beri kecupan selamat datang, dan elusan selamat tinggal.
Dan aku tidak akan menoleh, kau sangat mengerti hal itu.
Kita telah memilih jalan kita masing-masing.
Maka inilah cerita ketika tidak ada lagi kita, hanyalah aku dan kamu tanpa air mata.
Yang harus kita lakukan hanyalah menangguhkan hati, menyingkirkan setiap serpihan yang masih tersisa dari retakan-retakan itu, meski jangan memaksakan diri untuk melupakan semuanya karena kenangan dibuat bukan untuk menyakiti.
Tanpamu? Aku sudah lebih dari siap :)
Biarlah hanya menjadi obrolan sarapan pagi para peri.
Bahwa ketika aku menghempaskan cinta atas nama logika,
Dan tepat saat aku mengucapkan selamat tinggal pada hatinya yang mengambang tak pasti,
Mengangkut segala tentangku, mengemasnya dan berlalu pergi,
Ada satu yang terselamatkan:
Sebutir harapan.
Pelan, kulanjutkan hidupku.
Kutapaki titian, jurang, hingga lautan.
Pelan, waktu bergulir.
Meski kadang terasa begitu cepat di beberapa masa.
Jika kupejamkan mataku yang lelah akan siang dan sore, lalu bayanganmu datang berkelebat,
Tak kupungkiri kukirim doa kecil untukmu.
Jika samar hujan datang menemani langkahku,
Tak munafik ku tersenyum mengingat betapa kau mencintai tetes-tetes deras itu.
Dan pernah terjadi satu detik di pergantian hari, ketika segumpal perih merajam tak lagi sanggup kutahan,
Tak kutolak, ku biarkan mataku sejenak tersedu akan rindu,
Sejenak saja.
Dulu,
Ada kamu, senyummu, dan ceritamu yang datang mengisi hari-hariku dengan tawa, tangis, bahkan kemarahan.
Ada cinta yang tak terucap, meski telah lama tersadar.
Ada asa yang tak terungkap, dan terlalu sulit untuk dijelaskan seberapa dalam terpatri di benak, di hati, di rencana-rencana gila masa depan.
Sebelum akhirnya semua terhenti begitu saja.
Tanpa alasan, tanpa ucapan perpisahan, tanpa sekedar tanda-tanda berakhirnya pertemuan.
Aku bukan penyair gila, yang akan menggambarkan betapa bumi seakan berhenti berotasi sepeninggalmu, atau betapa aku mencintaimu lebih dari setiap tarikan oksigen yang kuhirup.
Bukan, aku tidak menyayangimu seberlebihan itu.
Namun aku pun bukan seorang yang bisa dengan mudahnya berpura-pura, memasang tampang baik-baik saja meski semua orang tahu, aku tidak sesehat itu.
Aku hanya tertegun,
itu saja.
Mendapati betapa beberapa bulan yang berjalan di antara kita, ternyata begitu istimewa.
Menyadari bahwa tatapan dan senyummu yang sangat kusuka itu, mungkin takkan pernah kudapatkan lagi.
Menemukan kenyataan yang cukup menyakitkan, aku bahkan tak tahu apa yang kau rasakan sekarang.
Tapi sebutir harapan yang tergantung agak rapuh itu kini tersenyum samar.
Entah harus kuakui atau tidak, di tengah usahaku menghindar dari dunia nyata, menghapus tanpa sisa setiap kenangan darinya dan mengisi penuh-penuh relung pikiranku dengan kesibukan sehingga tiada kesempatan bagi auranya untuk mengetuk pintu bahkan menerobos masuk.
Ada satu hal yang kututup rapat dari semua orang.
Satu rahasia yang tidak terlalu luar biasa, tapi tetaplah rahasia.
Ternyata memang masih,
Ada satu potongan kecil hatiku yang masih mencintainya tanpa syarat, tanpa alasan, tanpa mengharap balasan.
Ada segaris lidahku yang mendadak kelu setiap namanya di sebut.
Ada satu titik gila di otakku yang mengatakan mungkin memang aku ditakdirkan harus tetap mencintainya.
Meski rasa itu terkubur, tertutupi, dan hanya muncul sesekali, sembunyi-sembunyi.
(Kata-kata tak selesai di atas adalah puisi yang kubuat tanggal 5 April 2010, dan semalam, aku tertegun, tertawa membacanya, lalu melanjutkan puisi itu)
Namun kali ini harapan itu berkata padaku,
Bahwa begitu banyak yang mencintaiku di luar sana
Bahwa begitu bodoh jika aku masih saja mengalamatkan rinduku padanya
Bahwa begitu sia-sia aku menggantungkan harapan berhargaku untuknya
Setelah aku salah menilainya,
Setelah sayatan-sayatan itu melebar menjadi jurang perih yang membuatku bahkan mati rasa
Setelah kami gagal menenun kemungkinan menjadi kepastian, meninggalkan cabikan benang tak tuntas
Menyisakan dua orang yang tersesat dalam kebingungan dan kecanggungan,
Dengan sikap yang entah menunjukkan ketangguhan atau justruketidakdewasaan.
Mungkin dalam hati kita sama-sama tak acuh bercampur angkuh,
Sadarkah kita bahwa betapa menggelikannya itu mengingat apa yang telah kita lalui bersama?
Mungkin dalam benak kita sama-sama bingung sikap apa yang harus ditampilkan,
Mungkin.. Mungkin..
Sudahlah, aku juga sudah malas melanjutkan bait-bait tak berarah ini
Aku membuatnya juga bukan untuk kau baca
Aku hanya ingin diriku yang sedang menulis ini tersadar
Bahwa harapan untuk cinta yang bodoh, juga merupakan harapan yang bodoh
Bersyukurlah aku karena aku berteman begitu erat dengan waktu, dan seiring melangkahnya detik, rasa itu hampir tiada sekarang.
Dengar,
Aku baik-baik saja sebelum kehadiranmu di hidupku, maka kenapa aku harus tidak baik-baik saja sesudah kepergianmu?
Dan aku tidak akan menyesal, kau tau itu.
aku akan menemukan sebelah sayapku, dan begitu juga kau.
biar menjadi satu kenangan manis yang pernah kita beri kecupan selamat datang, dan elusan selamat tinggal.
Dan aku tidak akan menoleh, kau sangat mengerti hal itu.
Kita telah memilih jalan kita masing-masing.
Maka inilah cerita ketika tidak ada lagi kita, hanyalah aku dan kamu tanpa air mata.
Yang harus kita lakukan hanyalah menangguhkan hati, menyingkirkan setiap serpihan yang masih tersisa dari retakan-retakan itu, meski jangan memaksakan diri untuk melupakan semuanya karena kenangan dibuat bukan untuk menyakiti.
Tanpamu? Aku sudah lebih dari siap :)
* from Venus Aretha's Facebook
Tidak ada komentar:
Posting Komentar